pemanasanan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
sumber:https://dlh.bulelengkab.go.id/
Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah mempengaruhi hasil pertaniannya, menghasilkan gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai suhu yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang akan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Hingga saat ini masih terjadi perkembangan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau pemanasan lebih lanjut atau untuk mengatasi konsekuensi-konsekuensi yang ada. sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Penyebab pemanasan global
Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak . Ketika energi ini tiba di permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. sebagian dari panas ini berwujud infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air , karbon dioksida , dan metanayang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibat panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana mestinya gas dalam rumah kaca . Dengan konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperatur semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
Efek umpan balik
Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air . Pada kasus pemanasan akibatnya gas-gas rumah kaca seperti CO2 , pemanasan pada awal akan menyebabkan lebih banyak udara yang menguapkan atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan dengan akibat gas CO 2 itu sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan udara absolut di udara, kelembaban relatifudara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi hangat). [3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO 2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awansedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan IPCC ke Empat). Meskipun demikian,[3]
Umpan balik penting lainnya adalah kemampuan memantulkan cahaya ( albedo ) oleh es. [4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau udara di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun udara memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan efeknya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO 2 dan CH 4 dari melunaknya tanah beku ( permafrost ) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepaskan CH 4 yang juga merupakan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunnya tingkat nutrisi pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah. [5]
Variasi Matahari
Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan adanya umpan balik dari awan, dapat memberikan kontribusi dalam pemanasan saat ini. [6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah sebaliknya aktivitas Matahari akan memanaskan strata efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer . Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, [7] yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozonjuga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950. [8] [9]
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. [10] Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat peningkatan terhadap efek gas-gas rumah dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga dipandang remeh. [11]Meskipun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat , Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. [12] [13] Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari keluaran Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis. [14]
Peternakan (konsumsi daging)
Dalam laporan terbaru, Laporan Penilaian Keempat, yang dikeluarkan oleh Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir!
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah menaikkan suhu bumi secara drastis. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan penjelasan tentang pemanasan global. [15]
Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa ternyata semakin panasnya planet bumi dan berubahnya sistem iklim di bumi terkait dengan gas-gas rumah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.
Khusus peneliti untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok yang disebut dengan Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim atau disebut International Panel on Climate Change (IPCC). Setiap peneliti beberapa tahun sekali, para ahli dan peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan pertemuan untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan-penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut .
Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas rumah bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca yang dihasilkan oleh www, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan.
Tetapi, menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang www dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, “industri adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). ”Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon yang berasal dari peternakan. Jumlah ini melebihi jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia! [16] [17] [18]
Sektor kami telah lama memanfaatkan 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih) kuat dari CO2). Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam. [19]
Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi udara. Saat ini kami menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan – Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock's Long Shadow-Environmental Issues and Options), peternakan adalah “penggerak utama dari penebangan hutan …. kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. [20]
Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologis yang berlebihan bagi ekosistem.
Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak di Amerika Serikat
1 kg daging | Udara (liter) |
daging sapi | 1.000.000 |
sayang | 3.260 |
Ayam | 12.665 |
Kedelai | 2.000 |
Beras | 1.912 |
kentang | 500 |
ganda | 200 |
Slada | 180 |
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri peternakan sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!
Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak untuk membuat sebuah hamburger daripada yang dibutuhkan untuk membuat hamburger dari kacang kedelai saja!
Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, menakjubkan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.
Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor kami yang membahas emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO: [21]
- Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak
- Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk utama 41 juta ton CO2 setiap tahunnya
- Penggunaan bahan bakar fosil di musnahkan 90 juta ton CO2 per tahun (misal solar atau LPG)
- Alih fungsi lahan yang digunakan untuk mencatat 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan pertanian
- Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahun. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% jagung di dunia sebagai makanan ternak.7
- Karbon yang terlepas dari padang rumput terkikis menjadi pelajaran utama 100 juta ton CO2 per tahun karena
- Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan
- Metana yang keluar dalam proses pencernaannya dapat mencapai 86 juta ton per tahun.
- Metana yang terlepas dari kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
- Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
- Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
- Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.
Dari uraian di atas, Anda bisa melihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari setiap komponen sektor www. Di Australia, emisi gas rumah kaca dari sektor www lebih besar dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor pertanian Australia memanfaatkan 3 juta ton metana setiap tahun (setara dengan 216 juta ton CO2), sedangkan sektor pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menghasilkan 180 juta ton CO2 per tahun.
Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang berdiet vegan.
Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu setengah ton emisi gas rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius menghemat lebih sedikit satu ton emisi CO2.
Mengukur pemanasan global
Pada awal 1896, para ilmuan menyatakan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah atmosfer dan dapat meningkatkan suhu rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai .
Hasil pengukurannya menunjukkan peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu jenis kecenderungan ( tren ) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak kecenderungan penghangatan ini, tetapi akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.
Stasiun pada awalnya, terletak dekat dengan daerah sehingga pengukuran suhu akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan juga panas yang disimpan oleh material dan bangunan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit . Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980 dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.
Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa hal tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan suhu rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2,0 hingga 11,5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
Panel IPCC juga, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap menghangat selama periode tertentu akibat yang telah dilakukan sebelumnya. karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam menyerapnya kembali. [22]
Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan dengan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun situasi perubahan iklim telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan populasi yang sangat besar.
Model iklim
Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model komputer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainnya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat. [23] Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah masa depan, iklim iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C hingga 6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. [1] Model-model iklim juga digunakan untuk penyebab-penyebab perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang diamati dengan hasil prediksi terhadap berbagai penyebab, baik alam maupun aktivitas manusia.
Model iklim saat ini menghasilkan yang cukup dengan perubahan suhu hasil global selama beberapa tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasikan semua aspek dari iklim. [24] Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses alam atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan, dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap Skenario Emisi ( Special Report on Emissions Scenarios / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi terhadap siklus karbon ; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun responsnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respons bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO 2 ). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif. [25] [26] [27]
Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-model yang saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini. [28] Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim berjalan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi Matahari .
Dampak pemanasan global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca , tinggi permukaan air laut, pantai , pertanian , kehidupan hewan pembohong dan kesehatan manusia .
Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan subtropis di daerah, bagian yang ditutup salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak udara yang menguapkan dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca , sehingga keberadaan akan meningkatkan efek isolasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus udara ).). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini) [29] . Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Hasil dari beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai ( hurricane ) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan udara, akan lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
peningkatan permukaan laut
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak hal di kutub, terutama di sekitar Greenland , yang lebih memperbanyak volume udara di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inci) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inci) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda , 17,5 persen daerah Bangladesh , dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan membutuhkan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan audit dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan kontrak dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat . Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades .
Suhu global cenderung meningkat
Orang mungkin mungkin mengatakan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada , sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan lebih dari curah hujan dan lebih banyak tentang masa tanam. Di pihak lain, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah gurun yang menggunakan irigasi air dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan pertanian salju) musim dingin, yang bekerja sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Gangguan ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit untuk menghindari efek pemanasan karena sebagian besar lahan yang dimiliki manusia. Dalam pemanasan global, cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menahan perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalang oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa jenis spesies yang tidak dapat dengan cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Dampak sosial dan politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat memunculkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas ( heat stroke ) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga muncul dan malnutrisi . Perubahan cuaca ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare , malnutrisi , defisiensi mikronutrien , trauma psikologis, kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak penyebaran penyakit melalui udara ( Waterborne diseases ) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti Kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang ( ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (seperti Aedes Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang targetnya adala organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksikan bahwa ada beberapa spesies yang secara alami akan terseleksi atau punah karena perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climat change) yang berdampak pada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada penyakit yang ditularkan melalui air dan penyakit yang ditularkan melalui vektor. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma , alergi , coccidiodomycosis , penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
Perdebatan tentang pemanasan global
Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah suhu benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritik seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alam dapat juga meningkatkan suhu. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.
Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, menjelang berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah pemanasan selama abad ke-20 hanya dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer , lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat model prediksi. Akan tetapi, pendukung awal pemanasan global yakin dapat menjawab doa dari tiga pertanyaan tersebut.
Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat , ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol , memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.
Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi karena penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur udara yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut sedikit adanya kecenderungan pemanasan: suhu laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celcius (0,3 derajat Fahrenheit) dibandingkan suhu rata-rata 50 tahun terakhir, ada perubahan tetapi cukup berarti. [29]
Pertanyaan ketiga masih mencengangkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer dibandingkan dengan model prediksi. Menurut beberapa kritikus, membaca atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari model prediksi tidak dapat dijelaskan secara jelas.
pengendalian pemanasan global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah perubahan iklim di masa depan.
kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah melewati koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat pertumbuhan gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, kurangi produksi gas rumah kaca.
menghilangkan karbon
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya . Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika mengubah untuk penggunaan yang lain, seperti untuk lahan atau pertanian pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Cara menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery ). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau akuifer . Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia , di mana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam dapat ditangkap dan diinjeksikan kembali ke akuifer sehingga kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi yang dominan untuk kemudian digunakan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya tidak langsung mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas karbon dioksida lebih sedikit dibandingkan dengan minyak dibandingkan dengan batubara. Meskipun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklirlebih mengurangi karbon dioksida di udara. Energi, walaupun kontroversi karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepaskan karbon dioksida sama sekali.
persetujuan internasional
Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro , Brazil , 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang , 160 negara menyetujui persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto .
Perjanjian ini, belum diimplementasikan, bersama dengan 38 negara-negara industri yang memiliki proporsi paling besar dalam gas rumah kaca untuk emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dicapai lambat tahun 2012. Pada awalnya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa , yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang , tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.
Akan, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menghilangkan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan pengurangan karbon dioksida ini. Protokol Kyoto tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab atas 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.
Banyak orang yang mengkritik Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini akan segera dilaksanakan, ia hanya akan sedikit mengurangi konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikatdikemukakan oleh industri minyak, industri batubara terutama dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dolar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dapat digunakan kembali dalam bentuk penghematan uang setelah peralatan, hanya peralatan, dan proses industri yang lebih efisien.
Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda , negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida.
Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara memiliki program yang tidak dapat diambil untung dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan di negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat penting dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia emisinya berhasil lebih dari 5 persen di tingkat bawah 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit ke-negara industri, terutama yang ada di Uni Eropa .
